Terminal Secang kota Magelang semakin
sepi, bus yang terparkir disana pun semakin sedikit, terlihat banyak warung
angkringan yang mulai di buka. Meskipun hujan mengguyur kota ini, namun mereka
tetap bersemangat mencari nafkah dengan berjualan nasi kucing. Rasa lapar
menghampiriku, perutku mulai mengajakku untuk segera membeli makanan, entah makanan
apa, yang penting bisa sedikit menghilangkan rasa lapar. Ku langkahkan kaki
menuju angkringan di sebelah kanan halte tempat ku duduk dan bersandar menunggu
bus jurusan Purwokerto.
“Sore pak, ada gorengan?” tanyaku pada
sosok laki-laki setengah baya yang tidak lain adalah penjual nasi kucing
“Sore mbak, ada, tapi paling nunggu
nggoreng dulu mbak?” jawabnya dengan bahasa khas Semarang.
“iya ndakpapa pak, saya sekalian
nunggu bis” jawabku
Mata ini tak henti-hentinya menatap
jalan raya, berharap secepatnya ada bus jurusan Purwokerto yang lewat. Sambil
menunggu gorengan yang sudah ku pesan, ku ambil jaket yang ada di dalam tas
ranselku. Malam ini benar-benar dingin,
apalagi hujan semakin deras mengguyur kota ini. Baru kali ini aku sendirian
terdampar di kota orang. Biasanya aku ditemani teman kuliahku. Tapi kebetulan
mereka belum mau pulang kampung karena banyak acara organisasi di kampus.
Semenit kemudian, dari kejauhan ku
lihat ada bus yang mulai mendekati halte. Ku buka mata lebar-lebar sambil
kulangkahkan kaki mendekati tepi jalan raya. Aku tak peduli meski air hujan
membasahi bajuku, yang penting aku bisa pulang secepatnya. Bus itu semakin
mendekat dan semakin dekat lagi. Dan ternyata Allah mengabulkan doaku. “Bis jurusan
Purwokerto” batinku dengan penuh rasa senang. Ku raih tas ranselku, ku
lambaikan tangan kiriku kearah bis. Bis pun berhenti, dengan cepat ku berlari kearah
bis dan tak lupa ku ucapkan terimakasih kepada penjual nasi kucing yang telah memberiku
tempat untuk berlindung dari derasnya hujan.
Tak henti-hentinya ku ucap rasa syukur
kepada Allah. Meski bis penuh sesak dengan orang-orang yang sama-sama mau mudik
ke kampung halaman. Mungkin sebagian dari mereka adalah mahasiswa. Entah
mahasiswa dari perguruan tinggi mana. Ahh aku tak begitu mempermasalahkannya. ku
ambil handphone yang sedari tadi berdering. Ternyata banyak miscall dan sms
yang masuk. Ku ketik sms untuk membalasnya. Ku lihat ibu- ibu dengan
terburu-buru merapikan barang-barang bawaanya. “Mungkin sebentar lagi mau
turun, “ batinku. Semenit kemudian 2 orang ibu itu berdiri dan menyuruh ku
untuk duduk. Ternyata benar ibu-ibu itu
mau turun di alun-alun Purworejo. “Alhamdulillah rezeki bisa duduk. “ Batinku
lagi. Masih ada satu tempat duduk di sebelah kananku. tiba-tiba ada seorang
cowok yang sedari tadi berdiri di belakangku meminta izin untuk duduk.
“mbak, boleh saya duduk disini?
Tanyanya dengan penuh keramahan dan senyuman yang begitu indah dipandang.
“boleh mas silahkan duduk” jawabku
dengan senyuman pula.
Ku dekatkan tubuhku ke kaca bus, agar
tidak terlalu sempit untuk duduk. Kuletakan tas ranselku di bawah kursi.
Kusandarkan badanku ke jok bus. Rasanya
sungguh nyaman. Aku tidak lagi merasa khawatir tidur dimana malam ini. Mataku menerawang jauh ke tepian jalan raya. Berharap
perjalananku lancar dan selamat sampai di rumah. Aku tak sadar ternyata dari tadi cowok itu sedang
berbicara padaku.
“mbaknya mau kemana?” tanyanya sambil merapikan jaket
yang baru saja dipakai.
“mau pulang mas” jawabku singkat.
“kemana mbak?”
“Purwokerto, lha masnya sendiri? “ tanyaku
“sama mbak mau pulang ke Purwokerto juga. Kayaknya anak
kuliahan nih?” tanyanya dengan sedikit candaan yang membuatku lebih leluasa
untuk menjawabnya. Seketika ku lupa dengan rasa kantuk dan lelah. Ternyata dia
juga seorang mahasiswa. Namanya Hafidz, Mahasiswa semester 4 jurusan Ilmu Komputer Universitas Diponegoro
Semarang. Aku jadi ingat temanku yang kuliah di jurusan Kesehatan Masyarakat di
UNDIP. Ahh mungkin sekarang dia sudah mendapat banyak pengalaman disana.
Obrolan semakin menyenangkan. Dengan candaan Mas Hafidz yang
benar-benar membuatku tak hentinya tersenyum. Malam semakin larut. Ku lihat jam
yang melingkar di lengan kiriku. Jarum jam menunjukan angka 9. Sebagian
penumpang bus sudah lelap dalam tidurnya. Mungkin hanya kami berdua yang masih
asyik mengobrol. Entah itu mengobrol masalah kuliah sampai masalah pribadi. Aku
mendapat banyak motivasi darinya. Kami pun semakin akrab layaknya kakak adik
yang saling menasehati satu sama lain, padahal kami baru saja kenal 3 jam yang
lalu. Berbicara dengan orang yang terbuka memang menyenangkan.
Rasa kantuk mulai menghampiriku. Dengan mata yang perlahan tertutup, kusandarkan
kepalaku kejok bis. Namun secara tiba-tiba Mas Hafidz menyandarkan kepalaku
kepundaknya. Ku merasa lebih nyaman, ia pun melingkarkan jaketnya menutupi
jaketku. Mungkin dia tahu kalau sedari tadi aku kedinginan. “hmmm... masih ada
orang sebaik ini” batinku. mataku mulai tertutup, namun aku merasakan ada
seseorang yang mengambil ponsel ditanganku. Mataku sedikit terbuka, ternyata
mas Hafidz yang mengambilnya dan memiscall nomernya agar nomerku masuk dalam
list phonebook nya. Aku pun tidur kembali.
“Sokaraja.. Sokaraja..” suara kenek bus terdengar sampai
di telingaku. Perlahan ku buka mata. Mas Hafidz masih tertidur pulas. mungkin
dia kecapean. Ku tak berani membangunkannya. Sekilas kupandangi wajahnya. Meski
lagi tidur, aura karisma nya masih terlihat. Pasti diluar sana banyak orang
yang mengaguminya. Tidak hanya berwajah tampan dan mudah bergaul, ia pun
mempunyai jiwa kepemimpinan. Tak menyesal ku bisa kenal dengannya. Mendapat
banyak dorongan semangat darinya. Aku berharap pertemanan ini tidak hanya
terjalin di bus ini saja.
Ternyata sudah
sampai Sokaraja, sebentar lagi sampai di terminal. Ku rapikan barang-barang
bawaanku. terdengar bunyi handphone mas Hafidz, iapun terbangun dan segera
menjawab telefonnya. Ternyata
ibu nya yang menelfon dan menanyakan sudah sampai dimana. Bahasanya benar-benar
sopan. Ya, memang harus begitu ketika berbicara dengan orang yang lebih tua. Apalagi orang tua kita sendiri. Selepas telefon ia langsung
tersenyum menatapku. Aku membalas senyumnya.
“ngapain dek, senyum-senyum?”
“mas Hafidz dulu yang senyum-senyum sendiri.”
“Abis dek lucu kalo lagi tidur” jawabnya sedikit
ngeledek.
“ih apaan sih mas” jawabku sambil menepuk lengan kirinya.
Tak banyak lagi ku bisa berkata-kata. Aku benar-benar
merasa senang. Kami kembali mengobrol dan bercanda. Dua menit kemudian, Kenek
bus membangunkan penumpang lainnya dan memperingatkan untuk merapikan barang- barang
bawaanya agar tidak tertinggal di bus. Akhirnya sampailah di terminal
Purwokerto. Para penumpang mengantri turun dari bus. aku dan mas Hafidz masih
sibuk menata barang-barang. Setelah
antrian lebih longgar, aku dan mas Hafidz pun turun dari bus.
“Selamat berlibur dek. Hati-hati di
jalan.” Ucapnya dengan senyuman khasnya
“iya mas, selamat berlibur” jawabku
dengan membalas senyumnya.
Kami pun berpisah. Aku ke arah barat
dan mas Hafidz kearah selatan. Aku berharap bisa dipertemukan kembali
dengannya. Aku melanjutkan perjalanan ke rumah dengan naik ojeg. Sesampainya di
rumah, kurebahkan badanku diatas Kasur, ku lihat layar hp “1 message received
from mas Hafidz” ternyata nomer hp mas Hafidz sudah ada dalam contact hp ku. Dengan
muka kaget ku buka smsnya.
Selamat Malam dek Safa ;) ini
mas Hafidz, yang tadi ketemu di bis, kaget yaa? :D Mas cuma berharap pertemanan
kita gak hanya di bis aja. Oiia
tetep semngat kuliah ya dek. Kalo ada masalah crita ke mas, siapa tau mas bisa
bantu. Makasih dek, udah mau kenal sama mas. Jangan nyesel yaa. Selamat beristirahat.
“cesss” Hatiku sungguh bahagia. ternyata mas Hafidz pun
mempunyai pikiran yang sama dengan ku.. Hari demi hari berganti. Aku masih
berhubungan via telefon, dan social media. Kami semakin akrab. Kami sering menceritakan masalah-masalah
yang sedang dihadapi. Kami pun sering pulang pergi Semarang-Purwokerto
bersama-samaa. Kini, aku merasa mempunyai kakak baru layaknya kakak kandung
yang begitu sangat menyayangiku.

0 komentar:
Posting Komentar