Senin, 04 Mei 2015

Sebuah Cerpen "Angkutan Kedamaian"

Terminal Secang kota Magelang semakin sepi, bus yang terparkir disana pun semakin sedikit, terlihat banyak warung angkringan yang mulai di buka. Meskipun hujan mengguyur kota ini, namun mereka tetap bersemangat mencari nafkah dengan berjualan nasi kucing. Rasa lapar menghampiriku, perutku mulai mengajakku  untuk segera membeli makanan, entah makanan apa, yang penting bisa sedikit menghilangkan rasa lapar. Ku langkahkan kaki menuju angkringan di sebelah kanan halte tempat ku duduk dan bersandar menunggu bus jurusan Purwokerto.
“Sore pak, ada gorengan?” tanyaku pada sosok laki-laki setengah baya yang tidak lain adalah penjual nasi kucing
“Sore mbak, ada, tapi paling nunggu nggoreng dulu mbak?” jawabnya dengan bahasa khas Semarang.
“iya ndakpapa pak, saya sekalian nunggu bis” jawabku
Mata ini tak henti-hentinya menatap jalan raya, berharap secepatnya ada bus jurusan Purwokerto yang lewat. Sambil menunggu gorengan yang sudah ku pesan, ku ambil jaket yang ada di dalam tas ranselku. Malam ini benar-benar dingin, apalagi hujan semakin deras mengguyur kota ini. Baru kali ini aku sendirian terdampar di kota orang. Biasanya aku ditemani teman kuliahku. Tapi kebetulan mereka belum mau pulang kampung karena banyak acara organisasi di kampus.
Semenit kemudian, dari kejauhan ku lihat ada bus yang mulai mendekati halte. Ku buka mata lebar-lebar sambil kulangkahkan kaki mendekati tepi jalan raya. Aku tak peduli meski air hujan membasahi bajuku, yang penting aku bisa pulang secepatnya. Bus itu semakin mendekat dan semakin dekat lagi. Dan ternyata Allah mengabulkan doaku. “Bis jurusan Purwokerto” batinku dengan penuh rasa senang. Ku raih tas ranselku, ku lambaikan tangan kiriku kearah bis. Bis pun berhenti, dengan cepat ku berlari kearah bis dan tak lupa ku ucapkan terimakasih kepada penjual nasi kucing yang telah memberiku tempat untuk berlindung dari derasnya hujan.
Tak henti-hentinya ku ucap rasa syukur kepada Allah. Meski bis penuh sesak dengan orang-orang yang sama-sama mau mudik ke kampung halaman. Mungkin sebagian dari mereka adalah mahasiswa. Entah mahasiswa dari perguruan tinggi mana. Ahh aku tak begitu mempermasalahkannya. ku ambil handphone yang sedari tadi berdering. Ternyata banyak miscall dan sms yang masuk. Ku ketik sms untuk membalasnya. Ku lihat ibu- ibu dengan terburu-buru merapikan barang-barang bawaanya. “Mungkin sebentar lagi mau turun, “ batinku. Semenit kemudian 2 orang ibu itu berdiri dan menyuruh ku untuk duduk. Ternyata benar ibu-ibu itu mau turun di alun-alun Purworejo. “Alhamdulillah rezeki bisa duduk. “ Batinku lagi. Masih ada satu tempat duduk di sebelah kananku. tiba-tiba ada seorang cowok yang sedari tadi berdiri di belakangku meminta izin untuk duduk.
“mbak, boleh saya duduk disini? Tanyanya dengan penuh keramahan dan senyuman yang begitu indah dipandang.
“boleh mas silahkan duduk” jawabku dengan senyuman pula.
Ku dekatkan tubuhku ke kaca bus, agar tidak terlalu sempit untuk duduk. Kuletakan tas ranselku di bawah kursi. Kusandarkan badanku ke jok bus. Rasanya sungguh nyaman. Aku tidak lagi merasa khawatir tidur dimana malam ini. Mataku menerawang jauh ke tepian jalan raya. Berharap perjalananku lancar dan selamat sampai di rumah. Aku tak sadar ternyata dari tadi cowok itu sedang berbicara padaku.
“mbaknya mau kemana?” tanyanya sambil merapikan jaket yang baru saja dipakai.
“mau pulang mas” jawabku singkat.
“kemana mbak?”
“Purwokerto, lha masnya sendiri? “ tanyaku
“sama mbak mau pulang ke Purwokerto juga. Kayaknya anak kuliahan nih?” tanyanya dengan sedikit candaan yang membuatku lebih leluasa untuk menjawabnya. Seketika ku lupa dengan rasa kantuk dan lelah. Ternyata dia juga seorang mahasiswa. Namanya Hafidz, Mahasiswa semester 4 jurusan  Ilmu Komputer Universitas Diponegoro Semarang. Aku jadi ingat temanku yang kuliah di jurusan Kesehatan Masyarakat di UNDIP. Ahh mungkin sekarang dia sudah mendapat banyak pengalaman disana.
Obrolan semakin menyenangkan. Dengan candaan Mas Hafidz yang benar-benar membuatku tak hentinya tersenyum. Malam semakin larut. Ku lihat jam yang melingkar di lengan kiriku. Jarum jam menunjukan angka 9. Sebagian penumpang bus sudah lelap dalam tidurnya. Mungkin hanya kami berdua yang masih asyik mengobrol. Entah itu mengobrol masalah kuliah sampai masalah pribadi. Aku mendapat banyak motivasi darinya. Kami pun semakin akrab layaknya kakak adik yang saling menasehati satu sama lain, padahal kami baru saja kenal 3 jam yang lalu. Berbicara dengan orang yang terbuka memang menyenangkan.
Rasa kantuk mulai menghampiriku. Dengan mata yang perlahan tertutup, kusandarkan kepalaku kejok bis. Namun secara tiba-tiba Mas Hafidz menyandarkan kepalaku kepundaknya. Ku merasa lebih nyaman, ia pun melingkarkan jaketnya menutupi jaketku. Mungkin dia tahu kalau sedari tadi aku kedinginan. “hmmm... masih ada orang sebaik ini” batinku. mataku mulai tertutup, namun aku merasakan ada seseorang yang mengambil ponsel ditanganku. Mataku sedikit terbuka, ternyata mas Hafidz yang mengambilnya dan memiscall nomernya agar nomerku masuk dalam list phonebook nya. Aku pun tidur kembali.
“Sokaraja.. Sokaraja..” suara kenek bus terdengar sampai di telingaku. Perlahan ku buka mata. Mas Hafidz masih tertidur pulas. mungkin dia kecapean. Ku tak berani membangunkannya. Sekilas kupandangi wajahnya. Meski lagi tidur, aura karisma nya masih terlihat. Pasti diluar sana banyak orang yang mengaguminya. Tidak hanya berwajah tampan dan mudah bergaul, ia pun mempunyai jiwa kepemimpinan. Tak menyesal ku bisa kenal dengannya. Mendapat banyak dorongan semangat darinya. Aku berharap pertemanan ini tidak hanya terjalin di bus ini saja.
 Ternyata sudah sampai Sokaraja, sebentar lagi sampai di terminal. Ku rapikan barang-barang bawaanku. terdengar bunyi handphone mas Hafidz, iapun terbangun dan segera menjawab telefonnya. Ternyata ibu nya yang menelfon dan menanyakan sudah sampai dimana. Bahasanya benar-benar sopan. Ya, memang harus begitu ketika berbicara dengan orang yang lebih tua. Apalagi orang tua kita sendiri. Selepas telefon ia langsung tersenyum menatapku. Aku membalas senyumnya.
“ngapain dek, senyum-senyum?”
“mas Hafidz dulu yang senyum-senyum sendiri.”
“Abis dek lucu kalo lagi tidur” jawabnya sedikit ngeledek.
“ih apaan sih mas” jawabku sambil menepuk lengan kirinya.
Tak banyak lagi ku bisa berkata-kata. Aku benar-benar merasa senang. Kami kembali mengobrol dan bercanda. Dua menit kemudian, Kenek bus membangunkan penumpang lainnya dan memperingatkan untuk merapikan barang- barang bawaanya agar tidak tertinggal di bus. Akhirnya sampailah di terminal Purwokerto. Para penumpang mengantri turun dari bus. aku dan mas Hafidz masih sibuk menata barang-barang. Setelah antrian lebih longgar, aku dan mas Hafidz pun turun dari bus.
“Selamat berlibur dek. Hati-hati di jalan.” Ucapnya dengan senyuman khasnya
“iya mas, selamat berlibur” jawabku dengan membalas senyumnya.
Kami pun berpisah. Aku ke arah barat dan mas Hafidz kearah selatan. Aku berharap bisa dipertemukan kembali dengannya. Aku melanjutkan perjalanan ke rumah dengan naik ojeg. Sesampainya di rumah, kurebahkan badanku diatas Kasur, ku lihat layar hp “1 message received from mas Hafidz” ternyata nomer hp mas Hafidz sudah ada dalam contact hp ku. Dengan muka kaget ku buka smsnya.
Selamat Malam dek Safa ;) ini mas Hafidz, yang tadi ketemu di bis, kaget yaa? :D Mas cuma berharap pertemanan kita gak hanya di bis aja. Oiia tetep semngat kuliah ya dek. Kalo ada masalah crita ke mas, siapa tau mas bisa bantu. Makasih dek, udah mau kenal sama mas. Jangan nyesel yaa. Selamat beristirahat.
“cesss” Hatiku sungguh bahagia. ternyata mas Hafidz pun mempunyai pikiran yang sama dengan ku.. Hari demi hari berganti. Aku masih berhubungan via telefon, dan social media. Kami semakin akrab. Kami sering menceritakan masalah-masalah yang sedang dihadapi. Kami pun sering pulang pergi Semarang-Purwokerto bersama-samaa. Kini, aku merasa mempunyai kakak baru layaknya kakak kandung yang begitu sangat menyayangiku.

0 komentar:

Posting Komentar