Jumat, 17 April 2015

"Dosen Terhebat"



Jamat Jamil , dosen sekaligus motivator terbaik bagiku. Iya ! di Prodi Pendidikan Bahasa Arab aku bertemu dengannya. Ia mengampu mata kuliah Ilmu Aswat Wal Kitabah atau ilmu tentang Fonologi dasar. Awal bertemu dan belajar denganya aku merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang dulu pernah ku rasakan waktu duduk di bangku SMP. Aku mengigat guru favoritku kala itu. Windoko S.Pd guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Guru yang dengan sabar dan keceriaannya mengajari murid-muridnya, guru paling cakep,kece dan humoris di SMP ku. Guru yang paling banyak memberikan motivasi untuk siswa-siswanya. Ya ! aku menemukan sosok Pak Windoko dalam diri Ustadz Jamat Jamil. Bahkan lebih dari yang dipekirakan oleh pikiranku. Beliau, Ustadz Jamat Jamil, tidak hanya mahir dalam berbahasa Arab namun juga bahasa Inggris nya luar biasa. Prestasi yang luar biasa banyaknya. Saat itu aku masih belum percaya, ternya ia salah satu alumni Unniversitas negeri semarang yang langsung diangkat menjadi Dosen. Mendengar banyak sekali prestasi yang ia dapatkan hatiku tersentuh. Subhanallah, terima kasih ya rabb, telah mempertemukanku dengan orang yang luar biasa seperti nya. Batinku.
UNNES, dulu aku sangat membangga-banggakan nama tersebut. Sampai-sampai aku pun pernah terbawa mimpi bisa kuliah diUNNES. Dan mimpi itu kini menjadi kenyataan. Aku berada diantara orang-orang hebat yang stiap harinya berlalu lalang dihadapnku, menampar mukaku dengan kerasnya. Tak pernah ku bayangkan akan hal seperti ini. Tamparan keras itu mengingatkanku betapa pentingnya mencari ilmu. Betapa pentingnya mencari pengalamaan. aku sadar ilmu itu sangatlah bermanfaat. tanpa ilmu hidup akan suram. Kemana kaki akan melangkah? Sedangkan kita tak punya tujuan hidup yang sebenarnya? Aku sadar ilmu yang aku dapatkan masihlah sangat rendah, dibandingkan orang-orang hebat itu. Aku iri sekali. Dan pada saat aku bertemu orang-orang hebat itu aku meyakinkan diriku kamu bisa ! semua orang dilahirkan dalam keadaan otak yang sama, hanya mereka yang malas menggunakan otaknya untuk berfikir yang akan menyesal nantinya, kamu bisa, berusahalah untuk bisa, kamu punya kemampuan untuk bisa! keyakinan itulah yang membantuku dalam menyelesaikan segala bentuk keputusasaan yang aku alami.
“Ngapain kamu masuk bahasa arab? biologi mu kamu tnggalkan? Fisika, kimia yang kamu senangi kamu tinggalkan? Kenapa kamu lari ke bahasa arab? Ada apa? Apa kamu merasa bosan dengan dunia hitung-hitungan? Tapi kenapa harus bahasa arab? Yang kamu sendiri gak tau dasar-dasar ilmunya? Bagaimana kamu bisa menguasai bahasa arab? Apa kamu tau ilmu nahwu, shorof? Apa kamu bisa baca kitab kuning dengan lancar? Terus kenapa kok ngambil bahasa arab di unnes? Unnes itu universitas umum? Kenapa gak milih di UIN, IAIN atau STAIN yang udah ada label islamnya? Pasti disana ilmunya udah tinggi? Ayoo pikirkan soal itu !”
Pertanyaan2 itu selalu menyelimuti pikiranku. Saat awal aku berjumpa dengan kota semarang. Hatiku masih setengah2, oh bukan, belum ada setengahnya. Aku masih bener2 ragu, ragu dan ragu ! bukan hanya ragu masalah prodiku, juga karena perjalanan dari Banyumas-Semarang yang cukup jauh. Aku bakal selalu kangen dengan keluarga dirumah. Aku meninggalkan ayahku dirumah sendirian. Aku seperti orang yang bener-bener butuh sekali dorongan semangat dari orang lain. Aku butuh motivator. Dan Allah benar-benar mengabulkan do’aku. Dia menhadirkan motivator hebat itu. Ya! Ustadz Jamat Jamil. Aku mendapat banyak dorongan semangat dari beliau.
“Kalian harus bangga bisa masuk Bahasa Arab! Kalian bisa belajar bahasa Syurga, kalian bisa belajar bahasa yang luar biasa idahnya, bahasa Al-Qur’an yang setiap hari selalu di gunakan pleh umat muslim di dunia ini, bahasa akhirat, berbanggalah bisa masuk Bahasa Arab” itulah kata-kata yang menguatkan hatiku untuk tetap bertahan. Ustadz Jamat Jamil, kenapa ku sebut namanya lengkap? Karena begitu banyak nama Jamil di dunia ini,  aku sangat mengaguminya. Di umur yang masih tergolong muda beliau sudah menjadi seorang dosen, dan saat ini juga sedang melanjutkan study S2 si UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Beliau, tak pernah pilih kasih dalam mengajari mahasiswanya. Tak pernah sedikitpun meninggalkan mahasiswa yang belum bisa sama sekali. Tak pernah membangga-banggakan mereka yang sudah bisa. Tak pernah memilih mahasiswa yang cantik, atau yang cakep. Beliau sangatlah adil. Susah sekali menggambarkan pribadi beliau lewat kata-kata. Yang jelas beliau orang hebat yang luar biasa ! Menang lomba bahasa Arab berapa kali? Tak terhitung ! karena banyak sekali prestasi beliau. MAPRES UNNES? Iya ! Keren kan? Kece kan?
BERSAMBUNG...


Rabu, 15 April 2015

SEBUAH CERPEN "Tentang Kerinduan"

                Seketika ku dengar lantunan ayat dari surat cintanya yang membuatku semakin merasakan ketenangan yang mendalam. Ku rasa ku mulai bisa melupakan apa yang selama ini bergelut di dalam pikiranku. Tentang tugas kuliah yang semakin hari semakin menumpuk saja. Terkadang aku jenuh, terkadang aku ingin membuang semua buku-buku itu. Tapi aku berusaha menahan keegoisanku. Suatu saat nanti akan ada hal indah yang tersimpan di balik ujian ini.

          Malam mulai larut, mata ini masih saja memandangi monitor leptop, sedangkan tangan ini tak henti-hentinya memencet tombol keyboard. Aku mencoba menuliskan sebait kata rindu didalamnya. Aku merindukan mereka yang berada jauh dari ku. Aku merindukan kasih sayang mereka. Disini tak ada satupun orang yang mampu mengalahkan kasih sayang mereka padaku. Mungkin jika aku bisa memilih, aku akan tetap tinggal bersama mereka. Sekarng aku berada jauh dari mereka. Dan baru kali ini aku merasakan rasa rindu yang begitu dalam mengalahkan dalamnya Laut Merah.

          Aku mulai disibukkan dengan tugas-tugas kuliah yang semakin banyak. Tidak hanya itu, kesibukan organisasi pun membuatku jarang tidur malam. Mungkin hal-hal seperti itu banyak dialami oleh mahasiswa-mahasiswa lainnya.  Apalagi seorang aktifis, waktunya banyak tersita oleh organisasi.  Jalan hidup seseorang memang berbeda-beda. Ada yang memilih untuk menjadi mahasiswa kupu-kupu alias Kuliah Pulang ada pula yang memilih menjadi mahasiwa Kura-kura alias Kuliah Rapat. Itu semua tergantung pada diri masing-masing. Semuanya baik, dan tak ada yang menilai buruk. Hanya mungkin ada sisi baik nya dan ada pula sisi buruknya. Aku memilih untuk aktif di keduanya. Menjadi aktifis akademik dan non akademik. Tujuanku hanya 1, agar aku tidak menyia-nyiakan waktu yang ada. Mencari pengalaman sebanyak mungkin.


          Teringat orang tua yang membiayai kuliahku. Teringat kakak yang selalu memberikan motivasi dan semangat untukku. Teringat mereka yang tak henti-hentinya mendoakanku. Tak banyak kata terucap, hanya seuntai kata Terimakasih yang setulus-tulusnya untuk keluargaku di desa. Aku merindukan kalian semua.