Jamat
Jamil , dosen sekaligus motivator terbaik bagiku. Iya ! di Prodi
Pendidikan Bahasa Arab aku bertemu dengannya. Ia mengampu mata kuliah Ilmu
Aswat Wal Kitabah atau ilmu tentang Fonologi dasar. Awal bertemu dan belajar
denganya aku merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang dulu pernah ku
rasakan waktu duduk di bangku SMP. Aku mengigat guru favoritku kala itu.
Windoko S.Pd guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Guru yang dengan sabar
dan keceriaannya mengajari murid-muridnya, guru paling cakep,kece dan humoris
di SMP ku. Guru yang paling banyak memberikan motivasi untuk siswa-siswanya. Ya
! aku menemukan sosok Pak Windoko dalam diri Ustadz Jamat Jamil. Bahkan lebih
dari yang dipekirakan oleh pikiranku. Beliau, Ustadz Jamat Jamil, tidak hanya
mahir dalam berbahasa Arab namun juga bahasa Inggris nya luar biasa. Prestasi
yang luar biasa banyaknya. Saat itu aku masih belum percaya, ternya ia salah
satu alumni Unniversitas negeri semarang yang langsung diangkat menjadi Dosen.
Mendengar banyak sekali prestasi yang ia dapatkan hatiku tersentuh.
Subhanallah, terima kasih ya rabb, telah mempertemukanku dengan orang yang luar
biasa seperti nya. Batinku.
UNNES,
dulu aku sangat membangga-banggakan nama tersebut. Sampai-sampai aku pun
pernah terbawa mimpi bisa kuliah diUNNES. Dan mimpi itu kini menjadi kenyataan.
Aku berada diantara orang-orang hebat yang stiap harinya berlalu lalang
dihadapnku, menampar mukaku dengan kerasnya. Tak pernah ku bayangkan akan hal
seperti ini. Tamparan keras itu mengingatkanku betapa pentingnya mencari ilmu.
Betapa pentingnya mencari pengalamaan. aku sadar ilmu itu sangatlah bermanfaat.
tanpa ilmu hidup akan suram. Kemana kaki akan melangkah? Sedangkan kita tak
punya tujuan hidup yang sebenarnya? Aku sadar ilmu yang aku dapatkan masihlah
sangat rendah, dibandingkan orang-orang hebat itu. Aku iri sekali. Dan pada
saat aku bertemu orang-orang hebat itu aku meyakinkan diriku “ kamu bisa ! semua orang dilahirkan dalam keadaan otak
yang sama, hanya mereka yang malas menggunakan otaknya untuk berfikir yang akan
menyesal nantinya, kamu bisa, berusahalah untuk bisa, kamu punya kemampuan
untuk bisa!” keyakinan itulah yang membantuku dalam menyelesaikan
segala bentuk keputusasaan yang aku alami.
“Ngapain kamu masuk
bahasa arab? biologi mu kamu tnggalkan? Fisika, kimia yang kamu senangi kamu
tinggalkan? Kenapa kamu lari ke bahasa arab? Ada apa? Apa kamu merasa bosan
dengan dunia hitung-hitungan? Tapi kenapa harus bahasa arab? Yang kamu sendiri
gak tau dasar-dasar ilmunya? Bagaimana kamu bisa menguasai bahasa arab? Apa
kamu tau ilmu nahwu, shorof? Apa kamu bisa baca kitab kuning dengan lancar?
Terus kenapa kok ngambil bahasa arab di unnes? Unnes itu universitas umum? Kenapa gak milih
di UIN, IAIN atau STAIN yang udah ada label islamnya? Pasti disana ilmunya udah
tinggi? Ayoo pikirkan soal itu !”
Pertanyaan2 itu
selalu menyelimuti pikiranku. Saat awal aku berjumpa dengan kota semarang.
Hatiku masih setengah2, oh bukan, belum ada setengahnya. Aku masih bener2 ragu,
ragu dan ragu ! bukan hanya ragu masalah prodiku, juga karena perjalanan dari
Banyumas-Semarang yang cukup jauh. Aku bakal selalu kangen dengan keluarga
dirumah. Aku meninggalkan ayahku dirumah sendirian. Aku seperti orang
yang bener-bener butuh sekali dorongan semangat dari orang lain. Aku butuh
motivator. Dan Allah benar-benar mengabulkan do’aku. Dia menhadirkan motivator
hebat itu. Ya! Ustadz Jamat Jamil. Aku mendapat banyak dorongan semangat dari
beliau.
“Kalian harus bangga
bisa masuk Bahasa Arab! Kalian bisa belajar bahasa Syurga, kalian bisa belajar
bahasa yang luar biasa idahnya, bahasa Al-Qur’an yang setiap hari selalu di
gunakan pleh umat muslim di dunia ini, bahasa akhirat, berbanggalah bisa masuk
Bahasa Arab” itulah kata-kata yang menguatkan hatiku untuk tetap bertahan.
Ustadz Jamat Jamil, kenapa ku sebut namanya lengkap? Karena begitu banyak nama
Jamil di dunia ini, aku sangat
mengaguminya. Di umur yang masih tergolong muda beliau sudah menjadi seorang
dosen, dan saat ini juga sedang melanjutkan study S2 si UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta.
Beliau,
tak pernah pilih kasih dalam mengajari mahasiswanya. Tak pernah sedikitpun
meninggalkan mahasiswa yang belum bisa sama sekali. Tak pernah
membangga-banggakan mereka yang sudah bisa. Tak pernah memilih mahasiswa yang
cantik, atau yang cakep. Beliau sangatlah adil. Susah sekali menggambarkan
pribadi beliau lewat kata-kata. Yang jelas beliau orang hebat yang luar biasa ! Menang
lomba bahasa Arab berapa kali? Tak terhitung ! karena banyak sekali prestasi
beliau. MAPRES UNNES? Iya ! Keren kan? Kece kan?
BERSAMBUNG...
