Rabu, 15 April 2015

SEBUAH CERPEN "Tentang Kerinduan"

                Seketika ku dengar lantunan ayat dari surat cintanya yang membuatku semakin merasakan ketenangan yang mendalam. Ku rasa ku mulai bisa melupakan apa yang selama ini bergelut di dalam pikiranku. Tentang tugas kuliah yang semakin hari semakin menumpuk saja. Terkadang aku jenuh, terkadang aku ingin membuang semua buku-buku itu. Tapi aku berusaha menahan keegoisanku. Suatu saat nanti akan ada hal indah yang tersimpan di balik ujian ini.

          Malam mulai larut, mata ini masih saja memandangi monitor leptop, sedangkan tangan ini tak henti-hentinya memencet tombol keyboard. Aku mencoba menuliskan sebait kata rindu didalamnya. Aku merindukan mereka yang berada jauh dari ku. Aku merindukan kasih sayang mereka. Disini tak ada satupun orang yang mampu mengalahkan kasih sayang mereka padaku. Mungkin jika aku bisa memilih, aku akan tetap tinggal bersama mereka. Sekarng aku berada jauh dari mereka. Dan baru kali ini aku merasakan rasa rindu yang begitu dalam mengalahkan dalamnya Laut Merah.

          Aku mulai disibukkan dengan tugas-tugas kuliah yang semakin banyak. Tidak hanya itu, kesibukan organisasi pun membuatku jarang tidur malam. Mungkin hal-hal seperti itu banyak dialami oleh mahasiswa-mahasiswa lainnya.  Apalagi seorang aktifis, waktunya banyak tersita oleh organisasi.  Jalan hidup seseorang memang berbeda-beda. Ada yang memilih untuk menjadi mahasiswa kupu-kupu alias Kuliah Pulang ada pula yang memilih menjadi mahasiwa Kura-kura alias Kuliah Rapat. Itu semua tergantung pada diri masing-masing. Semuanya baik, dan tak ada yang menilai buruk. Hanya mungkin ada sisi baik nya dan ada pula sisi buruknya. Aku memilih untuk aktif di keduanya. Menjadi aktifis akademik dan non akademik. Tujuanku hanya 1, agar aku tidak menyia-nyiakan waktu yang ada. Mencari pengalaman sebanyak mungkin.


          Teringat orang tua yang membiayai kuliahku. Teringat kakak yang selalu memberikan motivasi dan semangat untukku. Teringat mereka yang tak henti-hentinya mendoakanku. Tak banyak kata terucap, hanya seuntai kata Terimakasih yang setulus-tulusnya untuk keluargaku di desa. Aku merindukan kalian semua.

0 komentar:

Posting Komentar