DNR? Apa sih?
Gemuruh ombak di pantai, semilir angin
yang hanya sebentar datang sebentar pergi, sinar matahari yang semakin
meninggi, pasir hitam yang terhampar luas menambah pesona pantai Widarapayung. Pantai
ini menyimpan banyak kisah ku bersama orang-orang yang ku sayangi. Tepat di
pasir ini sering ku tulis banyak nama. Nama orang-orang yang selama ini
memotivasi ku, yang selama ini menyayangiku tanpa batas. Sahabat-sahabatku. Dan
yang sekarang ku tulis adalah “DNR” yang berarti “DinaNinaRokha” itulah
singkatan dari nama ku dan sahabat kecilku.
Dari kecil aku kenal mereka, Dina
dan Nina. mungkin dulu tak seakrab ini. Mungkin juga dulu tak berfikir untuk
sedekat ini. Awalnya karena sering ngaji bareng di mushola. Aku paling muda
diantara mereka, emm.. meskipun hanya selisih satu tahun. Selepas ngaji sering kita
sempatkan main-main di depan mushola, hal yang paling ku ingat adalah saat kita
duduk bersama dan memandangi bulan bintang di langit. Kemudian sambil tersenyum
aku berkata “ Aku akan mengambil bintang yang paling terang diantara bintang
lainnya untuk kalian “ mereka tertawa, akupun ikut tertawa. Moment itulah yang paling indah. Tertawa bersama di
keheningan malam. Aku ingin suatu saat mengulang kembali moment itu.
Saat ini kita mulai di pisahkan
oleh jarak dan waktu. Kita mulai sibuk dengan kepentingan masing-masing. Kita
mulai sibuk mempersiapkan masa depan. Tak ada waktu seperti dulu lagi, tak ada
waktu untuk bersama-sama menatap bintang di malam hari. Kuliah di beda tempat
membuat kita jarang ketemu. Bahkan hanya bisa bertemu ketika liburan tiba. Ya
seperti saat ini. Meskipun aku satu Universitas dengan Dina, tapi kesibukan
kuliah pun kadang menghambat kita untuk saling bertatap muka, apalagi untuk
bisa menatap bintang. Sepertinya sangat sulit, atau bahkan mustahil?
Anehnya kita bertiga kuliah di
jurusan yang sama. Jurusan Bahasa. Aku Bahasa
Arab Unnes, Dina Bahasa Jawa Unnes dan Nina Bahasa Indonesia Unsoed. Aneh kan? tapi
ini benar-benar terjadi. 3 sejoli, 3 couple. Aku tak pernah membayangkan
sebelumnya. Aku mulai mengerti inilah rencana Allah yang tak pernah dapat terjamah
oleh otak manusia. Aku percaya rencana Allah jauh lebih indah dari perkiraan
manusia.
Waktu demi waktu berlalu.
Liburan sebentar lagi berakhir. Kita akan jarang bertemu lagi. Tapi, menurutku
inilah liburan yang paling berkesan. Dan inilah kedua kalinya aku pergi ke
pantai Widarapayung bersama mereka. Mungkin kita akan bertemu lagi saat bulan
puasa atau menjelang lebaran. Biasanya setiap malam takbiran kita sering
berkumpul bersama menyalakan kembang api, atau ikut keliling takbiran. Entah
untuk taun ini. Semoga lebih berkesan dari taun lalu. Meskipun puasa pertama tak
bersama-sama di Banyumas.
Aku jadi ingat Puasa Ramadhan taun lalu, bareng sama
anak-anak yang ngaji di musola, kita ngadain buka bersama. Jadi panita
kecil-kecilan. tapi aku cukup bahagia. Apa taun ini bisa terulang? Semoga yaa J

0 komentar:
Posting Komentar