Selasa, 03 Maret 2015

My story

DNR? Apa sih?

Gemuruh ombak di pantai, semilir angin yang hanya sebentar datang sebentar pergi, sinar matahari yang semakin meninggi, pasir hitam yang terhampar luas menambah pesona pantai Widarapayung. Pantai ini menyimpan banyak kisah ku bersama orang-orang yang ku sayangi. Tepat di pasir ini sering ku tulis banyak nama. Nama orang-orang yang selama ini memotivasi ku, yang selama ini menyayangiku tanpa batas. Sahabat-sahabatku. Dan yang sekarang ku tulis adalah “DNR” yang berarti “DinaNinaRokha” itulah singkatan dari nama ku dan sahabat kecilku.
Dari kecil aku kenal mereka, Dina dan Nina. mungkin dulu tak seakrab ini. Mungkin juga dulu tak berfikir untuk sedekat ini. Awalnya karena sering ngaji bareng di mushola. Aku paling muda diantara mereka, emm.. meskipun hanya selisih satu tahun. Selepas ngaji sering kita sempatkan main-main di depan mushola, hal yang paling ku ingat adalah saat kita duduk bersama dan memandangi bulan bintang di langit. Kemudian sambil tersenyum aku berkata “ Aku akan mengambil bintang yang paling terang diantara bintang lainnya untuk kalian “ mereka tertawa, akupun ikut tertawa. Moment itulah yang paling indah. Tertawa bersama di keheningan malam. Aku ingin suatu saat mengulang kembali moment itu.
Saat ini kita mulai di pisahkan oleh jarak dan waktu. Kita mulai sibuk dengan kepentingan masing-masing. Kita mulai sibuk mempersiapkan masa depan. Tak ada waktu seperti dulu lagi, tak ada waktu untuk bersama-sama menatap bintang di malam hari. Kuliah di beda tempat membuat kita jarang ketemu. Bahkan hanya bisa bertemu ketika liburan tiba. Ya seperti saat ini. Meskipun aku satu Universitas dengan Dina, tapi kesibukan kuliah pun kadang menghambat kita untuk saling bertatap muka, apalagi untuk bisa menatap bintang. Sepertinya sangat sulit, atau bahkan mustahil?
Anehnya kita bertiga kuliah di jurusan yang sama. Jurusan Bahasa. Aku Bahasa Arab Unnes, Dina Bahasa Jawa Unnes dan Nina Bahasa Indonesia Unsoed. Aneh kan? tapi ini benar-benar terjadi. 3 sejoli, 3 couple. Aku tak pernah membayangkan sebelumnya.  Aku mulai mengerti inilah rencana Allah yang tak pernah dapat terjamah oleh otak manusia. Aku percaya rencana Allah jauh lebih indah dari perkiraan manusia.
Waktu demi waktu berlalu. Liburan sebentar lagi berakhir. Kita akan jarang bertemu lagi. Tapi, menurutku inilah liburan yang paling berkesan. Dan inilah kedua kalinya aku pergi ke pantai Widarapayung bersama mereka. Mungkin kita akan bertemu lagi saat bulan puasa atau menjelang lebaran. Biasanya setiap malam takbiran kita sering berkumpul bersama menyalakan kembang api, atau ikut keliling takbiran. Entah untuk taun ini. Semoga lebih berkesan dari taun lalu. Meskipun puasa pertama tak bersama-sama di Banyumas.

Aku jadi ingat Puasa Ramadhan taun lalu, bareng sama anak-anak yang ngaji di musola, kita ngadain buka bersama. Jadi panita kecil-kecilan. tapi aku cukup bahagia. Apa taun ini bisa terulang? Semoga yaa J